Diabetes Tingkatkan Risiko Serangan Jantung pada Lelaki
Lelaki yang menderita diabetes tipe 2 yang diobati dengan insulin tanpa riwayat penyakit kardiovaskular (CVD) lebih berisiko untuk terkena kardiovaskular utama (misalnya, kematian dini, serangan jantung dan stroke), dibandingkan lelaki yang memiliki riwayat CVD.
Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Amerika Serikat.
Dengan menggunakan data dari REACH Registry global, para peneliti di Brigham dan Women 's Hospital (BWH) dievaluasi besarnya risiko diabetes mellitus pada kejadian kardiovaskular pada lelaki dan perempuan.
Di antara 64.000 pasien REACH, risiko selama empat tahun untuk kejadian kardiovaskular utama meningkat secara bertahap pada pasien dengan diabetes yang diatasi hanya dengan diet (pola makan) saja, obat diabetes oral atau insulin.
Pasien lelaki dengan diabetes tipe 2 diobati dengan insulin, tetapi tanpa CVD sebelumnya merupakan kelompok berisiko tinggi, dibandingkan dengan pasien perempuan.
Misalnya, lelaki dengan diabetes menggunakan insulin memiliki tingkat 16 persen kejadian kardiovaskular utama selama empat tahun.
Sedangkan, lelaki dengan CVD sebelumnya tanpa diabetes memiliki tingkat yang lebih rendah terkena kardiovaskular. Mirip dengan perempuan dengan diabetes menggunakan insulin dan perempuan tanpa diabetes, tapi dengan CVD sebelumnya (sekitar 13 persen).
Para peneliti menyimpulkan, bahwa lelaki dengan diabetes menggunakan insulin memiliki risiko 70 persen terkena kardiovaskular utama, dibandingkan lelaki dengan riwayat CVD.
Selain itu, lelaki dengan diabetes menggunakan insulin berada pada risiko 40 persen lebih tinggi daripada perempuan.
"Temuan ini menunjukkan, bahwa baik lelaki maupun perempuan penderita diabetes dengan resistensi insulin parah (pasien yang membutuhkan insulin) berada pada risiko tinggi untuk kejadian kardiovaskuler, sebagai risiko tinggi seperti pasien yang sudah telah mendirikan penyakit jantung," kata Jacob Udell, MD, Divisi Kardiovaskular , BWH Departemen Kedokteran, dan peneliti utama studi.
"Mengingat bahwa jumlah penderita diabetes tipe 2 yang membutuhkan insulin terus meningkat, maka mereka harus rutin mengendalikan faktor risiko kardiovaskular agat terhindar dari kardiovaskular pertama," katanya.
Studi ini dipresentasikan pada American College of Cardiology 2012 Sesi Ilmiah Tahunan, 24-26 Maret 2012 di Chicago.
.png)