Faisal - Biem Tegaskan Komitmen Revitalisasi Bangunan Bersejarah
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur GKI Jakarta dari jalur independen Faisal Basri dan Biem Benyamin menegaskan komitmen mereka untuk merevitalisasi sejumlah bangunan bersejarah yang ada di wilayah Ibu Kota.
"Daripada membangun pusat perbelanjaan, lebih baik pengembang diarahkan untuk merestorasi bangunan sejarah, itu juga bentuk investasi di sektor pariwisata," kata cagub Faisal Basri di depan Gedung Kesenian Jakarta usai melakukan sosialisasi di kawasan Pasar Baru, Rabu sore (27/6).
Sebelumnya kedua pasangan bernomor urut lima itu telah berkeliling ke sejumlah wilayah di Jakarta Pusat, terutama di kawasan Pasar Baru, yang masih memiliki beberapa bangunan bersejarah yang terbengkalai.
"Sepanjang Pasar Baru dari Jalan Gereja Ayam hingga ke Jalan Antara dan sampai ke Gedung Juang di Menteng Raya itu banyak bangunan yang bernilai historis tinggi. Sayang potensi sebesar itu tidak dimanfaatkan untuk wisata sejarah," sesal Faisal.
Faisal mengemukakan, di luar negeri biasanya bangunan bersejarah itu dijadikan kawasan wisata, sehingga daya tarik kota pun semakin bertambah.
"Masak kalah sama Malaysia dalam hal penataan kawasan wisata historis itu. Kita bisa saja menerapkannya asal ada kemauan," tegas Faisal.
Namun, Faisal juga menekankan pentingnya penataan lingkungan sekitar kawasan bersejarah tersebut. Misalnya, dengan penataan pedagang kaki lima dan pemberlakuan jalan bebas kendaraan bermotor.
"Harusnya di Pasar Baru itu tidak boleh ada kendaraan masuk. Pedagang ditata sedemikian rupa, bukan digusur, tetapi diregistrasi sehingga para pedagang dan pembeli pun merasa nyaman," sambung dia.
Senada dengan hal itu, Biem Benyamin kemudian mempertegas komitmen pasangan Faisal-Biem untuk menyediakan lokasi berdagang yang layak bagi kali lima, serta memberi ruang untuk seniman jalanan agar bisa berkembang.
"Bangunan bersejarah adalah medium tempat nilai-nilai kebaikan masa lalu itu menempel pada tembok, ukiran, gaya bangunan, pintu, taman, patung, dan lain sebagainya. Bila produk-produk sejarah itu hilang, tidak ada lagi medium yang bisa dirasakan, dipegang, dan dilihat," kata Biem.
Sebelumnya Biem Benyamin juga menyempatkan berkunjung ke Masjid Cut Meutia di wilayah Gondangdia, Jakarta Pusat, yang merupakan salah satu peninggalan sejarah dari zaman penjajahan kolonial Belanda.
Masjid Cut Meutia itu memiliki keunikan tersendiri dan kemungkinan tidak terdapat di masjid-masjid lainnya karena mihrab (posisi imam) dari masjid diletakkan di samping kiri dari saf salat, tidak di tengah seperti lazimnya. Selain itu posisi safnya juga terletak miring terhadap bangunan masjidnya sendiri karena bangunan masjid tidak tepat mengarah kiblat.