Menanti Mega Proyek Dahlan Iskan
Penerapan efisiensi dan gerak cepat dalam bekerja tampaknya benar-benar diresapi oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Tak hanya memangkas panjangnya birokrasi pemerintahan, mantan aktivis mahasiswa ini juga sangat ekspansif dan gerak cepat dalam bekerja.
Belakangan, Dahlan menugaskan PTPN III selaku Holding BUMN Perkebunan untuk membangun mega proyek Oleochemical pertama di Sei Mangkei, Sumatera Utara berkapasitas 1,5 juta ton per tahun.
Bahkan, dirinya yakin, PTPN III mampu membangun proyek tersebut 'seorang diri', tanpa bantuan pihak swasta atau pun asing. "Nilai investasinya Rp3 triliun, dan akan didanai sepenuhnya oleh perseroan serta melalui pinjaman bank," tuturnya dalam wawancara di kantorBeritaSatu Media Holding, kemarin.
Pabrik tersebut rencananya akan selesai dibangun dan mulai beroperasi dalam waktu dua tahun kedepan. Sebelumnya, Dahlan juga pernah menggagas proyek mobil nasional tenaga listrik putra petir, yang prototipenya ditargetkan selesai pada tahun 2014.
Dengan menggandeng empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN), proyek ini dilatarbelakangi kerinduan pemerintah terhadap kepemilikan mobil nasional berkualitas.
Mega proyek lainnya yang juga berniat diluncurkan oleh Kementerian BUMN adalah membentuk korporasi raksasa pangan untuk mengendalikan aspek ketahanan pangan nasional.
Tak hanya masalah produksi, perusahaan ini juga nantinya diharapkan berperan penting dalam masalah distribusi dan keamanan pangan yang menjadi akar masalah saat ini.
Sementara dari segi peningkatan efisiensi, penyatuan perusahaan BUMN perkebunan dan kehutanan tentu menjadi contoh aksi Dahlan berikutnya. Dirinya bahkan berniat menghapus perusahaan plat merah yang dinilai tidak penting bagi negara.
Menurut Dahlan, BUMN setidaknya harus mengandung satu dari tiga poin ini, yakni mempertahankan eksistensi negara, menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, serta mampu menjadi pemimpin di wilayah Asia Tenggara.
“Tentu ada BUMN yang tidak masuk dalam tiga poin itu, jika ada, harus dipikirikan lagi untuk apa kita punya BUMN tersebut. Jangan mengurus BUMN yang tidak memiliki peran penting untuk negara,” ujar Dahlan di Jakarta, hari ini.
Dahlan menuturkan, pihaknya telah merumuskan tiga poin yang paling tidak, salah satu poinnya harus dimiliki oleh BUMN sebagai alasan keberadaan BUMN tersebut.
Poin pertama, menurut dia, yakni terkait dengan eksistensi negara yang berkaitan dengan pangan, energi, dan persenjataan.
“Tiga sektor itu penting (pangan, energi, dan persenjataan). Kalau belum ada harus dibentuk, kalau masih kecil harus dibesarkan. Kalau masih jelek, harus diperbaiki. Untuk pangan sekarang sudah ada, kita akan all out di pangan,” ungkap dia.
Dahlan menuturkan, pihaknya saat ini juga akan melakukan perbaikan pada BUMN-BUMN strategis yang membidangi bisnis persenjataan. Selain itu, menurut dia, pihaknya juga tengah menyiapkan langkah-langkah untuk merestrukturisasi BUMN energi.
Poin kedua, menurut Dahlan, BUMN dapat dipertahankan sebagai perusahaan negara, jika mampu menjadi mesin dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Dahlan menyontohkan, BUMN yang bergerak dalam bidang infrastruktur dan finansial.
“BUMN harus mampu membangun konektivitas, misalnya pelabuhan. Untuk membangun konektivitas juga diperlukan dukungan BUMN yang bergerak dibidang finansial,” ungkap dia.
Setelah negara di pertahankan dimana pertahanan yang baik menurut dia adalah pertumbuhan ekonomi, poin ketiga adalah harus ada BUMN yang menjadi pemimpin di Asia Tenggara.
“Kita terlalu besar untuk dihina dan disepelekan, harus ada sejumlah BUMN yang menjadi pemimpin di Asean,” tutur Dahlan.
Dahlan sendiri berencana untuk menghapus sejumlah BUMN yang tidak masuk ke dalam tiga poin tersebut. Penghapusan BUMN tersebut, akan dilakukan dengan sejumlah cara, di antaranya melalui merger dengan BUMN lainnya yang sejenis sesuai dengan program restrukturisasi BUMN yang telah dirancang oleh kementerian BUMN.
“Akan sesuai dengan restrukturisasi BUMN, tidak akan ada yang berubah dari program yang sudah disusun,” tambah dia.